Laporan Sultan Riau Lingga Disambut Positif, Tim Hukum : Kita Apresiasi Polda Kepri

  • Whatsapp
banner 468x60

Palembang – Keluarga Sultan Riau Lingga yang berada di Pulau Penyengat menyampaikan syukur dan terimakasih kepada Kepala Kepolisian Daerah Kepulauan Riau (Kapolda Kepri) dan jajarannya. Ucapan itu disampaikan, menyusul respon positif terhadap pengaduan tindak pidana perbuatan tidak menyenangkan dari sejumlah pihak yang mengganggu jalannya ritual budaya Kesultanan Riau-Lingga pada 19 Oktober 2021.

mengutip dari media Penajamnews, Tiga organisasi yang diduga menghalang-halangi upacara pengukuhan Sultan Melayu Riau-Lingga, yakni Organisasi Pemuda Penyengat (OPP), Perhimpunan Agung Zuriat dan Kerabat Kerajaan Riau-Lingga, serta Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepulauan Riau. Ketiga organisasi itu dilaporkan ke Polda Kepri sebagai tindak pidana perbuatan tidak menyenangkan.

Read More
banner 300250

Laporan zuriat kesultanan itu langsung ditanggapi Polda Kepri, dengan memeriksa Tengku Armizan sebagai pelapor. Dia menyerahkan bukti-bukti perbuatan tindak pidana berupa spanduk bertuliskan: ‘Kami menolak pengukuhan Kesultanan Riau-Lingga yang dianggap palsu.’ Kemudian surat permintaan menggagalkan acara kepada Polres Tanjungpinang serta Polda Kepri.

“Kami berdoa agar Kapolda Kepri segera diberi kenaikan pangkat, karena pengaduan masyarakat seperti kami direspon dengan baik, sehubungan dengan tindakan yang menyakitkan hati keturunan Sultan Riau-Lingga terkait dengan sejumlah kegiatan ritual budaya yang kami selenggarakan beberapa waktu lalu,” ujar Tengku Armizan.

Meski ada penolakan dari ketiga organisasi, namun menurut keluarga Zuriat Kesultanan Abdurrahman Muazzam Syah II yang tinggal di Pulau Penyengat, Polresta Tanjungpinang bersama Polda Kepri tidak serta-merta menggagalkan upacara pengukuhan. Sebab upacara itu, kata keluarga kesultanan, bukan merupakan duplikasi kekuasaan, namun hanya pelestarian dan pemajuan kebudayaan sesuai amanat Undang-Undang nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

”Kami berdoa agar Kapolda Kepri segera diberi kenaikan pangkat, karena pengaduan masyarakat seperti kami direspon dengan baik, sehubungan dengan tindakan yang menyakitkan hati keturunan Sultan Riau-Lingga terkait dengan sejumlah kegiatan ritual budaya yang kami selenggarakan beberapa waktu lalu,” kata Tengku Armizan.

Tengku Armizan mengungkapkan, para petugas yang melayaninya dalam membuat berita acara pemeriksaan pelapor di Polda Kepri, bekerja dengan baik dan profesional.

“Saya berharap aparat dapat segera memproses masalah ini, demi tegaknya eksistensi budaya dan adat istiadat di Riau-Lingga yang dijunjung tinggi oleh leluhur. Kami juga berdoa Bapak Kapolda mendapat promosi dan sukses dalam menjalankan tugas sebagai pimpinan di lembaga kepolisian,” ucapnya.

Tengku Armizan adalah seorang keturunan Kesultanan Riau-Lingga, yang kini telah resmi mengemban amanah sebagai Sultan Riau-Lingga. Upacara pengukuhan Sultan Riau-Lingga sebagai upaya pelestarian budaya Melayu Riau-Lingga yang mesti diemban keturunan langsung dari Abdurrahman Muazzam Syah II, dilaksanakan pada 19 Oktober 2021 lalu.

Dia pun menyesalkan adanya penolakan dan upaya menggagalkan yang dilakukan oleh tiga organisasi yang telah dilaporkan ke Polda Kepri. Meski pelaksanaan ritual pengukuhan adat istiadat dan budaya Melayu Riau-Lingga di Pulau Penyengat pada 19 Oktober lalu, tetap berjalan dengan baik, namun keluarga kesultanan Riau-Lingga merasa malu karena seremoni adat pada malam 19 Oktober 2021 terpaksa ditiadakan.

Padahal, menurut Tengku Armizan, upacara pengukuhan dan seremoni pada malam hari usai upacara pengukuhan merupakan bagian yang saling menyempurnakan.

“Kami merasa dihinakan dengan tindakan sekelompok orang yang mengganggu ke-sakralan adat istiadat kesultanan yang dijunjung tinggi oleh Kesultanan Riau-Lingga,” katanya.

Perbuatan yang dilakukan ketiga organisasi itu, menurutnya, menjadi agenda tambahan pada rapat Dewan Kerajaan Kesultanan Nusantara di Yogyakarta akhir Desember 2021. Kesultanan Riau-Lingga merupakan salah satu anggota Dewan Kerajaan Kesultanan Adat Nusantara yang diakui oleh negara.

Sementara Tengku Armizan diakui sebagai Sultan dari Kesultanan Riau-Lingga. Hal ini dibuktikan dengan prasasti dan tandatangan bersama kerajaan dan kesultanan adat se-Nusantara.

Terpisah, Ketua Tim Hukum Lembaga Adat Kesultanan Riau Lingga H Yopie Bharata,SH meminta aparat hukum memberikan keadilan yang seadil-adilnya. “Kami meminta agar penegak hukum memberikan keadilan yang seadil-adilnya,” tegas Yopie.

Sementara, Wakil Ketua Tim Hukum Lembaga Adat Kesultanan Riau Lingga, Nasib Siahaan,SH menambahkan bahwa, akibat dari perbuatan sekelompok oknum tersebut sehingga Lembaga Adat Kesultanan Riau Lingga gagal melaksanan kegiatan pengukuhan akhirnya menimbulkan kerugian baik materil maupun immateril.

“Menurut kita disini ada perbuatan yang melawan hukum sehingga agenda yang telah kita canangkan tidak terealisasi. Kita juga mengapresiasi penyidik yang terus berupaya memberikan keadilan kepada masyarakat khususnya Kesultanan Riau Ligga,” ujarnya.

Meski demikian, Nasib Siahaan berharap agar kontruksi hukum yang tengah dihadapi ini tetap berjalan sesuai dengan hukum yang berlaku di Negeri ini.

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *